Senin, 30 Maret 2020

KONFIRMASI PIUTANG USAHA

Seri Belajar Auditing

KONFIRMASI PIUTANG USAHA

Tujuan konfirmasi piutang usaha adalah untuk memenuhi tujuan audit yg terkait dengan: eksistensi, keakuratan, serta Cut-off.
Standar auditing mengharuskan konfirmasi piutang usaha dalam situasi yang normal.
Pengecualian terhadap keharusan menggunakan konfirmasi, yaitu :
1.      Piutang usaha tidak material.
2.     Auditor mempertimbangkan konfirmasi bukti yang tidak efektif karena tingkat responnya kemungkinan tidak akan memadai atau tidak dapat diandalkan.
3. Gabungan tingkat risiko inheren dan risiko pengendalian rendah dan bukti substansif lainnya dapat diakumulasi untuk menyediakan bukti yang mencukupi. Jika auditor memutuskan tidak akan mengkonfirmasi utang justifikasi untuk melakukan hal tersebut harus didokumentasikan dalam file audit.


Dalam melakukan konfirmasi auditor terlebih dulu harus menentukan jenis konfirmasi apa yang TEPAT akan digunakan, jenis-jenis konfirmasi yang dapat digunakan antara lain adalah :

   1.    Konfirmasi positif 
Komunikasi dengan debitur untuk mengkonfirmasi apakah saldo yang diminta pihak penerima sudah benar.

2.    Formulir konfirmasi yang kosong
Jenis konfirmasi positif yang tidak menyatakan jumlah pada konfirmasi tetapi meminta penerimanya mengisi saldo atau melengkapi informasi lain.

3.    Konfirmasi faktur 
Jenis konfirmasi positif lainnya dimana setiap faktur akan dikonfirmasi, dan bukan saldo piutang usaha pelanggan secara keseluruhan.

4.    Konfirmasi negatif 
Jenis konfirmasi yang ditujukan juga kepada debitur tetapi hanya meminta respon jika debitur tidak setuju dengan jumlah yang dinyatakan.

5.    Penetapan waktu
Bukti yang paling dapat diandalkan dari konfirmasi adalah bukti yang baru diperoleh jika konfirmasi itu dikirim sedekat mungkin dengan tanggal neraca.

6.    Keputusan sampling
Faktor utama yang mempengaruhi ukuran sample untuk mengkonfirmasi piutang usaha adalah :
a.       Salah saji yang dapat ditoleransi
b.      Risiko inheren
c.       Risiko pengendalian
d.      Risiko yang dicapai dari pengujian substansif lainnya
e.       Jenis konfirmasi

Ketika memilih sample piutang usaha untuk konfirmasi, auditor harus berhati-hati agar tidak terpengaruh oleh klien.

  7.   Menyelenggarakan pengendalian
Setelah item yang akan dikonfirmasi dipilih, auditor harus menyelenggarakan pengendalian atas konfirmasi itu hingga dikembalikan dari pelanggan.

8.   Menindaklanjuti non-respon
Konfirmasi yang dikirim tetapi tidak dikembalikan oleh pelanggan tidak boleh dianggap sebagai bukti audit yang signifikan. Untuk setiap konfirmasi positif yang tidak dikembalikan, auditor dapat memeriksa dokumentasi berikut untuk memverifikasi eksistensi dan keakuratan setiap transaksi penjualan yang membentuk saldo akhir piutang usaha:
a.       Penerimaan kas selanjutnya
b.      Salinan faktur penjualan
c.       Dokumen pengiriman
d.      korespondensi dengan klien

9.    Analisis perbedaan.
Jika permintaan konfirmasi dikembalikan oleh pelanggan, auditor harus menentukan penyebab setiap perbedaan yang dilaporkan. Jenis perbedaan dalam konfirmasi yang sering dilaporkan adalah :
a.       Pembayaran telah dilakukan
b.      Barang belum diterima
c.       Barang telah dikembalikan
d.      Kesalahan klerikal dan jumlah yang diperdebatkan
e.       Menarik kesimpulan

Jika semua perbedaan telah diselesaikan, termasuk yang ditemukan dalam melakukan prosedur alternative, auditor harus mengevaluasi ulang pengendalian internal.
                       
Keputusan akhir mengenai piutang usaha dan penjualan adalah apakah bukti yang mencukupi telah diproses melalui pengujian pengendalian dan pengujian substansif atas transaksi, prosedur analitis, prosedur pisah batas, konfirmasi, dan pengujian substansif lainnya untuk menjustifikasi penarikan kesimpulan mengenai kebenaran saldo yang dinyatakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar